Esai Tentang Artikel Kebakaran Hutan di Riau
Kebakaran Hutan di Riau
Kebakaran hutan akhir-akhir ini sering sekali terjadi di beberapa penjuru di dunia, khususnya di Indonesia. Penyebab kebakaran hutan di Indonesia pada dasarnya disebabkan oleh dua faktor, yaitu disebabkan oleh faktor manusia dan oleh faktor alam itu sendiri.
Dan
sebagian besar kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh
manusia yang tergolong menjadi dua jenis, yaitu faktor kesengajaan dan faktor
ketidaksengajaan. Hal ini pun sangat memprihatinkan, sebab Indonesia dahulu
dikenal sebagai paru-paru dunia karena sebagian besar hutan di dunia ada di
Indonesia.
Kebakaran
hutan dan lahan (Karhutla) kali ini terjadi karena adanya pembukaan lahan untuk
perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau. Menurut data yang ada dari Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) luas lahan yang terbakar di Riau sejak
Januari hingga September ini adalah sebanyak total 6.464 hektare. Hingga kini,
upaya pemadaman masih terus dilakukan.
Warga
turut bergotong royong memadamkan. Selain tim satgas darat seperti TNI, Polri,
BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA) juga beberapa perusahaan
swasta, para warga pun turut bergotong royong membantu memadamkan api. Bahkan
terpantau seorang warga yang menggunakan kostum Spiderman membantu memadamkan
kebakaran lahan gambut yang terjadi di Rimbo Panjang, Riau. Warga bernama
Yandri tersebut memberikan dukungannya untuk membantu petugas BPBD Riau dan TNI
Kodim 0313 Kampar yang tengah memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang tengah
melanda Provinsi Riau.
Segala
upaya telah dilakukan untuk meminimalisir bencana kabut asap yang sedang
melanda provinsi tersebut. Misalnya seperti hujan buatan, waterbombing,
pemadaman manual, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, nyatanya ketebalan
asap yang menyelimuti Riau malah terus bertambah. Karena jika dilihat dari
pantauan yang dilakukan oleh BMKG sumber asal asap tersebut banyak berasal dari
Jambi dan Sumatera Selatan.
Kabarnya
kondisi Riau semakin parah. Bahkan pada Kamis (12/09), jarak pandang yang
sebelumnya tembus sejauh 1 km semakin menyempit menjadi hanya 300 meter. Kabut
asap yang semakin tebal pun membuat langit menguning akibat partikel debu
Karhutla yang semakin pekat.
Berdasarkan
data BMKG Stasiun Pekanbaru, pada Jumat pagi pukul 06.00 WIB terpantau ada 1.319
titik panas (hotspot) yang jadi indikasi awak Karhutla di Pulau Sumatera. Titik
panas paling banyak di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yakni 537 titik,
kemudian Jambi 440 titik, dan Riau sendiri ada 239 titik panas.
Hal
ini menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu. Seperti terganggunya proses
belajar mengajar, warga yang menderita infeksi saluran pernafasan, jarak pandang
menyempit
Maka
dari itu, kita harus menjaga kelestarian hutan yang ada di sekitar kita, yaitu
dengan cara meminimalisir aktivitas yang dapat menimbulkan kebakaran hutan. Dalam
kasus Riau ini, kita tidak boleh asal membuka lahan dengan cara membakarnya
karena dapat menyebabkan kebakaran hutan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1858744/original/032467400_1517564670-Lahan-Gambut-di-Riau2.jpg)
Komentar
Posting Komentar